Selasa, 29 Desember 2015
NILAI RELIGI DALAM MAKAM SYEH MAULANA JUMADIL KUBRO
Studi Kasus di Jalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Semarang
Mini Riset
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Islam dan Kebudayaan Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si
Oleh :
Hidayatul Istifaiyah (133511025)
Kelas PM-5A
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dipulau jawa terkenal dengan dakwah penyebaran Islam para wali yaitu walisongo yang terdiri dari Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang , Sunan Kalijogo, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Sunan Kudus, dan Sunan Muria. Sebelum datangnya walisongo ada sebuah tokoh ulama atau wali yang bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro yang sekaligus ayah dari sunan Gresik dan Sunan Ishak. Syekh Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama (Waliyullah) yang memiliki karomah cukup besar. Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW yaitu keturunan ke 10 dari Husein cucu Rasulullah SAW. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H.
Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Trowulan Majapahit, Mojokerto, Semarang, Desa Turgo, Merapi, Yogyakarta dan Parang Tritis, Gunung Kidul, Yogjakarta. Penulis mengambil di wilayah semarang yang terletak di jalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Semarang. Disana terdapat sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro yang dijadikan wisata religi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan religi dai Jawa-Madura. Dimakam tersebut terdapat sebuah kegiatan rutin yang memiliki nilai-nilai sosial dan budaya.
B. Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini akan mengungkapkan apa saja nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan :
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan apa saja nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro
Manfaat :
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Memperkaya khazanah penelitian mengenai nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro.
2. Masyarakat dapat mempertimbangkan hasil penelitian ini sebagai sarana untuk lebih memahami tradisi dan agama.
BAB II
LANDASAN TEORI
Makam adalah bukti faktual dan kongkret Islam di Jawa seperti ditemukannya batu nisan kubur Fatimah binti Maemun di leran (Gresik) pada tahun 475 Hijriyah. Dalam hal ini makam Syekh Jumadil Qubro (waliyullah) juga merupakan bukti kongkret Islam dijawa yang memiliki nilai-nilai sosial dan budaya.
Makam atau kuburan wali diyakini sebagai tempat yang tenang, nyaman dan mustajabah untuk berdoa. Melalui prosesi yang disebut tawassul, sosok wali yang lekat dengan kisah-kisah karamah itu akan memunculkan suatu optimisme dalam berdoa; memohon kepada Sang Pencipta. Ini tentu berbeda dengan sangkaan kelompok muslim puritan yang menyebut ziarah kubur sebagai prilaku bid’ah. Aktifitas mendatangi kuburan juga tidak lagi identik dengan masyarakat “abangan” dalam trikotomi Clifford Geertz. Belakangan ziarah malah lebih sering dikaitkan dengan masyarakat “santri” yang berpusat di masjid-masjid dan pesantren-pesantren. Sementara itu masuknya unsur pariwisata menambah semarak tradisi ziarah. Makam-makam para wali menjadi salah satu proyek wisata yang menjadi andalan pemerintah daerah dalam menggerakkan roda ekonomi. Makam wali mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat setempat
Kata “ziarah” berasal dari bahasa Arab ( ) زيارة عن بريدة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كنت نهيتكم عن زيارةالقبور،فقدأذن لمحمدفي زيارة قبرأمه، فزوروها فإنهاتذكرالآخرة. رواهالترمذي ا مَ مَ مِااللىَّ نْه مَي مَل ىَّاع يُ ىَّاأمَر ىَّاريُوومِىاومَ مَى مَل يُاع ىَّااللىَّه مَ مِ ىَّار ىَّا مَى مَل يُاع لِّم مَل دٍاييُل مَد نْاأمَو مَااممِن م ( )ا لهاا االله yang berarti mengunjungi. Namun ziarah yang dimaksud di Indonesia hampir selalu dimaksudkan sebagai ziarah kubur,yaitu mendatangi kuburan orang tua atau keluarga, wali atau orang salih untuk memanjatkan doa. Istilah “kuburan” di Indonesia, seringkali diganti dengan makam, terutama untuk kuburan orang yang mendapatkan status sosial tertentu ketika ia hidup. Dalam bahasa Arab, sebenarnya kata “makam” atau maqam berarti tempat, status, atau hirarki. Misalnya, istilah maqam Ibrahim di Makkah tidak dimaksudkan sebagai kuburan Nabi Ibrahim AS. Sementara tempat menyimpan jenazah sendiri dalam bahasa Arab disebut qabratau kubur atau lebih tegas disebut kuburan. Misalnya, ada istilah qabr hud atau kuburan Nabi Hud di Hadramaut. Dalam hal ini makam atau sarean Syekh Jumadil Qubro dijadikan tempat peziarah baik lokal maupun luar.
Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai abad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Syekh Jumadil Qubro menjadi tokoh kunci penyebaran Islam di tanah Jawa. Dia datang dari Samarkand Uzbekistan melalui laut mengislamkan orang yang masih kuat menganut agama Hindu pada zaman kerajaan Majapahit. Syekh Jumadil Qubro juga merupakan keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW.
Syekh Jumadil Qubro memiliki dua putrak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya.
Syekh Maulana Jumadil Qubro wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H, yang kini makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.
BAB III
KONDISI LAPANGAN
Tradisi berziarah, merupakan wisata religi yang sering dilakukan oleh peziarah dari masyarakat lokal semarang. Berziarah kemakam merupakan sarana untuk memanjatkan do’a yang diyakini mustajabah. Tidak hanya untuk memanjatkan do’a untuk jenazah, tetapi juga sarana tempat untuk mengungkapkan berbagai masalah yang dialami oleh peziarah tersebutkemudian para peziarah meminta kepada Sang Pencipta agar semua problem hidup mereka teratasi. Adapun kebaikan atau keteladanan dari sosok orang suci yang berada di dalam makam itu menjadi suatu perantara (tawassul). Para orang suci yang diziarahi seakan hadir kembali dalam batin peziarah dalam bentuk optimisme (tafa’ul). Mereka menjadi semacam sugesti dalam berdoa kepada Sang Pencipta.
Pada proses berziarah dilakukan berbagai bentuk doa yang dibacakan seperti tahlil yang populer di kalangan masyarakat, yang dimulai dari bacaan surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada ahli kubur, dilanjutkan bacaan ayat Al-Qur’an, dzikir dan doa-doa. Kadang juga diisi dengan dakwah atau ceramah yang mengajak untuk sering berziarah agar dosa dan masalah dalam kehidupan bisa teratasi dengan bantuan Allah SWT lewat tawassul.
Dalam tradisi ziarah ini tidak terlepas dari air pemberi barokah yang disediakan di makam tersebut yang diyakini mengandung do’a-do’a yang akan menyembuhkan sakit atau menjadikan seorang anak pintar ataupun sukses akan hidupnya. Dengan meminumnya dan membawa pulang air tersebut untuk diberikan kepada anggota keluarga dirumah. Adapula seorang peziarah yang menyakini bahwa dengan mandi di makam yang disediakan kamar mandi juga akan membantu menyembuhkan segala sakit dan hilang segala sial dan lain sebagainya.
BAB IV
ANALISA LAPANGAN
Makam Syekh Maulana Jumadil Qubro terletak diJalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Semarang. Menurut juru kunci Bapak Afwan dahulu sebelum ada bangunan dan jalan tol wilayah Terboyo Kulon merupakan tambak yang luas dan di tengahnya tepatnya disamping kiri jalan tol dari atah Pelabuhan terdapat gundukan tanah seperti makam dan satu nissan. Dan menurut juru kunci, dahulu ada tokoh ulama yang diberi syafaat melalui mimpi yang menerangkan bahwa tanah gundukan tersebut adalah kediaman Syekh Maulana Jumadil Qubro yang sekarang digunakan sebagai tempat ziarah.
Didalam makam juga terdapat pohon randu yang tingginya mencapai lima meter menjulang keatas sampai menembus lantai dua. Dahulu pohon tersebut merupakan tempat berteduh para peziarah sebelum dibangun Masjid Jumadil Qubro. Kini pohon tersebut masih hidup dan diberi cagar pelindung yang terletak disamping makam Syekh Maulana Jumadil Qubro dan kondisi terawat dengan baik. Pohon tersebut juga merupakan daya tarik untuk peziarah yang datang di makam tersebut.
Ribuan peziarah yang berasal dari dalam dan luar kota berdatangan ke makam wali Allah tersebut, dengan rombongannya masing-masing. Mereka datang menggunakan bus dan mobil mulai pagi telah memadati masjid Jumadil Qubro.
Peziarah kebanyakan berasal dari Demak, Kudus, Pekalongan, Kendal, Ungaran, Semarang, Kalimantan, Salatiga, Magelang, Jepara dan bahkan sampai lingkup Jawa-Madura. Kegiatan ziarah ini merupakan langkah awal mengenalkan kepada anak-anak kepada wisata religius dari yang terdekat dulu di Semarang. Karena melihat dari perjuangan beliau yang tidak ada bandingannya berada di Kota Semarang untuk menyebarkan agama Islam.
Dengan ini agar anak didik menjalankan apa yang dicontohkan oleh beliau. Apalagi menjelang awal Ramadhan, merupakan langkah awal untuk menata hati dan menambah spirit semangat kepada anak. Dan menyiapkan hati, dan fisik serta menjaga kesehatan yang setiap tahun rutin dilaksanakan. Selain itu, Makam Syekh Jumadil Qubro dikunjungi banyak peziarah juga selama masa liburan sekolah. Pihak Yayasan Syekh Jumadil Qubro juga sedang membangun masjid agar semakin dikenal orang.
Pada umumnya jamaah melakukan doa, tahlil, yasinan, dan manaqib di makam tersebut. Adapun kegiatan rutin untuk umum Mujahadah setiap Senin malam, Manaqib dan Maulidurrasul Kamis Kliwon selapanan, Manaqib Alhikmah setiap Sabtu pahing dan Khaul Akhir Apit atau Dzulkaidah, pada hari Jumat setiap tahunnya. Saat melaksanakan kegiatan rutin tersebut biasanya di barengi dengan bancaan atau tasyakuran yang terdiri dari Ayam Ingkung dan gudangan yang disediakan pada saat manaqiban. Konon makanan tersebut erupakan makanan favorit Syekh Abdul Qadir Jailani tokoh yang terdapat dalam buku manaqib.
Konon Syekh Abdul Qadir Jailani bisa menghidupkan ayam ingkung yang sudah mati, dengan keajaiban tersebut membuat daya tarik orang-orang sekitar dengan begitu banyak orang yang tertarik oleh dakwah Syekh Abdul Qadir Jailani. Kini tradisi manaqiban sering dilakukan sebagai nazar setelah tercapainya keinginan, sebagai penghilang mala petaka dan manaqib sering dilakukan pada malam 11 pada bulan jawa. Tanggal 11 bulan jawa merupakan hari dimana Syekh Abdul Qadir Jailani wafat dan malam tersebut sering diselenggarakannya manaqib.
BAB V
KESIMPULAN
Ziarah merupakan tradisi budaya Jawa yang melekat sebelum datangnya Islam di pulau Jawa. Pada proses berziarah dilakukan dengan berbagai bentuk doa yang dibacakan seperti tahlil yang populer di kalangan masyarakat, yang dimulai dari bacaan surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada ahli kubur, dilanjutkan bacaan ayat Al-Qur’an, dzikir dan doa-doa. Dengan berdo’a disana diyakini bahwa akan diijabahi lewat tawassul dan do’a akan dikabulkan Allah SWT.
Bagi masyarakat Genuk Semarang Ziarah merupakan wisata religi yang nantinya akan menentramkan jiwa dan membantu permasalahan hidup dengan cara berdo’a tadi. Saat berziarah biasanya juga disediakan air yang diyakini memberikan barokah karena sudah mengandung do’a-do’a para peziarah. Konon air tersebut dapat meneymbuhkan sakit baik ruhaniah maupun jasmaniyah.
Ziarah makam yang terdapat di terboyo kulon dahulunya ditemukan oleh seorang Tokoh agama lewat karomah mimpi dan kini dibangun menjadi Masjib Jumadil Qubro yang didalamnya terdapat pesarean Syekh Jumadil Qubro dan dijadikan tempat peziarah sebagai wisata religi masyarakat wilayah sekitar.
Peziarah kebanyakan berasal dari Demak, Kudus, Pekalongan, Kendal, Ungaran, Semarang, Kalimantan, Salatiga, Magelang, Jepara dan bahkan sampai lingkup Jawa-Madura. Tujuan berziarah sendiri yaitu langkah awal mengenalkan kepada anak-anak kepada wisata religius dari yang terdekat dulu di Semarang. Karena melihat dari perjuangan beliau yang tidak ada bandingannya berada di Kota Semarang untuk menyebarkan agama Islam
Kegiatan rutin di Masjid Jumadil Qubro sekaligus makam Syekh Maulana Jumadil Qubro diisi dengan doa, tahlil, yasinan, dan manaqib di makam tersebut. Adapun kegiatan rutin untuk umum Mujahadah setiap Senin malam, Manaqib dan Maulidurrasul Kamis Kliwon selapanan, Manaqib Alhikmah setiap Sabtu pahing dan Khaul Akhir Apit atau Dzulkaidah, pada hari Jumat setiap tahunnya
DAFTAR PUSTAKA
Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013.
Interview
Wawancara dengan Bapak Afwan
BIODATA MAHASISWA
Nama : Hidayatul Istifaiyah
NIM : 133511025
Jurusan : Pendidikan Matematika
Alamat : Jln. Gebangsari RT 03/IX Genuk Semarang
No HP : 085741221501
Alamat E-mail : sayahidayatulistifaiyah@gmail.com
Twitter : @istifaiyah
Blog : jendela istifaiyah.blogspot
Riwayat Pendidikan : MI Mirfaul’ulum Semarang
SMP Negeri 20 Semarang
MA Negeri 1 Semarang
UIN Walisongo Semarang
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Narasumber : Bapak Afwan (Juru Kunci Masjid Jumadil Qubro)
Tempat/ Waktu wanwancara : rumah Bapak Afwan (Terboyo Kulon)
Hasil wawancara:
1. Bagaimana asal mula adanya makam Syekh Maulana Jumadil Qubro?
Jawab: Dahulu ada tokoh ulama yang diberi syafaat melalui mimpi yang menerangkan bahwa tanah gundukan tersebut adalah kediaman Syekh Maulana Jumadil Qubro yang sekarang digunakan sebagai tempat ziarah. Dahulu Syekh Maulana Jumadil Qubro berdakwah melalui pendekatan-pendekatan khusus.
2. Kegiatan apa saja yang diselenggarakan Masjid Jumadil Qubro?
Jawab: Kegiatan rutin untuk umum Mujahadah setiap Senin malam, Manaqib dan Maulidurrasul Kamis Kliwon selapanan, Manaqib Alhikmah setiap Sabtu pahing dan Khaul Akhir Apit atau Dzulkaidah, pada hari Jumat setiap tahunnya
3. Apa saja yang harus dipersiapkan saat diselenggarakannya kegiatan rutin tersebut?
Jawab: biasanya ada orang yang mengadakan bancaan atau tasyakuran yang makanannya terdiri dari Ayam Ingkung dan gudangan yang disediakan pada saat manaqiban. Konon makanan tersebut erupakan makanan favorit Syekh Abdul Qadir Jailani tokoh yang terdapat dalam buku manaqib.
4. Makna apa saja yang terkandung dalam Ziarah makam khususnya makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Qubro
Jawab: selain menambah wawasan religi, ziarah juga mengenalkan kepada anak-anak kepada wisata religius dari yang terdekat dulu di Semarang. Karena melihat dari perjuangan beliau yang tidak ada bandingannya berada di Kota Semarang untuk menyebarkan agama Islam. Selain itu juga menentramkan hati dan jiwa karena disana banyak memanjatkan do’a untuk kebaikan baik diri sendiri maupun keluarga.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar