Selasa, 29 Desember 2015

NILAI RELIGI DALAM MAKAM SYEH MAULANA JUMADIL KUBRO Studi Kasus di Jalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Semarang Mini Riset Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah : Islam dan Kebudayaan Jawa Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si Oleh : Hidayatul Istifaiyah (133511025) Kelas PM-5A FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2015   BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dipulau jawa terkenal dengan dakwah penyebaran Islam para wali yaitu walisongo yang terdiri dari Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang , Sunan Kalijogo, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajat, Sunan Kudus, dan Sunan Muria. Sebelum datangnya walisongo ada sebuah tokoh ulama atau wali yang bernama Syekh Maulana Jumadil Kubro yang sekaligus ayah dari sunan Gresik dan Sunan Ishak. Syekh Jumadil Kubro adalah salah seorang Ulama (Waliyullah) yang memiliki karomah cukup besar. Beliau adalah seorang yang mempunyai garis keturunan cukup dekat dari Rasulullah SAW yaitu keturunan ke 10 dari Husein cucu Rasulullah SAW. Beliau wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H. Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Trowulan Majapahit, Mojokerto, Semarang, Desa Turgo, Merapi, Yogyakarta dan Parang Tritis, Gunung Kidul, Yogjakarta. Penulis mengambil di wilayah semarang yang terletak di jalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Semarang. Disana terdapat sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro yang dijadikan wisata religi yang banyak dikunjungi oleh wisatawan religi dai Jawa-Madura. Dimakam tersebut terdapat sebuah kegiatan rutin yang memiliki nilai-nilai sosial dan budaya. B. Rumusan Masalah Dalam penelitian ini akan mengungkapkan apa saja nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan apa saja nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro Manfaat : Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah: 1. Memperkaya khazanah penelitian mengenai nilai-nilai sosial budaya yang terdapat pada makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Kubro. 2. Masyarakat dapat mempertimbangkan hasil penelitian ini sebagai sarana untuk lebih memahami tradisi dan agama. BAB II LANDASAN TEORI Makam adalah bukti faktual dan kongkret Islam di Jawa seperti ditemukannya batu nisan kubur Fatimah binti Maemun di leran (Gresik) pada tahun 475 Hijriyah. Dalam hal ini makam Syekh Jumadil Qubro (waliyullah) juga merupakan bukti kongkret Islam dijawa yang memiliki nilai-nilai sosial dan budaya. Makam atau kuburan wali diyakini sebagai tempat yang tenang, nyaman dan mustajabah untuk berdoa. Melalui prosesi yang disebut tawassul, sosok wali yang lekat dengan kisah-kisah karamah itu akan memunculkan suatu optimisme dalam berdoa; memohon kepada Sang Pencipta. Ini tentu berbeda dengan sangkaan kelompok muslim puritan yang menyebut ziarah kubur sebagai prilaku bid’ah. Aktifitas mendatangi kuburan juga tidak lagi identik dengan masyarakat “abangan” dalam trikotomi Clifford Geertz. Belakangan ziarah malah lebih sering dikaitkan dengan masyarakat “santri” yang berpusat di masjid-masjid dan pesantren-pesantren. Sementara itu masuknya unsur pariwisata menambah semarak tradisi ziarah. Makam-makam para wali menjadi salah satu proyek wisata yang menjadi andalan pemerintah daerah dalam menggerakkan roda ekonomi. Makam wali mendatangkan berkah tersendiri bagi masyarakat setempat Kata “ziarah” berasal dari bahasa Arab ( ) زيارة عن بريدة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كنت نهيتكم عن زيارةالقبور،فقدأذن لمحمدفي زيارة قبرأمه، فزوروها فإنهاتذكرالآخرة. رواهالترمذي ا مَ مَ مِااللىَّ نْه مَي مَل ىَّاع يُ ىَّاأمَر ىَّاريُوومِىاومَ مَى مَل يُاع ىَّااللىَّه مَ مِ ىَّار ىَّا مَى مَل يُاع لِّم مَل دٍاييُل مَد نْاأمَو مَااممِن م ( )ا لهاا االله yang berarti mengunjungi. Namun ziarah yang dimaksud di Indonesia hampir selalu dimaksudkan sebagai ziarah kubur,yaitu mendatangi kuburan orang tua atau keluarga, wali atau orang salih untuk memanjatkan doa. Istilah “kuburan” di Indonesia, seringkali diganti dengan makam, terutama untuk kuburan orang yang mendapatkan status sosial tertentu ketika ia hidup. Dalam bahasa Arab, sebenarnya kata “makam” atau maqam berarti tempat, status, atau hirarki. Misalnya, istilah maqam Ibrahim di Makkah tidak dimaksudkan sebagai kuburan Nabi Ibrahim AS. Sementara tempat menyimpan jenazah sendiri dalam bahasa Arab disebut qabratau kubur atau lebih tegas disebut kuburan. Misalnya, ada istilah qabr hud atau kuburan Nabi Hud di Hadramaut. Dalam hal ini makam atau sarean Syekh Jumadil Qubro dijadikan tempat peziarah baik lokal maupun luar. Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai abad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Syekh Jumadil Qubro menjadi tokoh kunci penyebaran Islam di tanah Jawa. Dia datang dari Samarkand Uzbekistan melalui laut mengislamkan orang yang masih kuat menganut agama Hindu pada zaman kerajaan Majapahit. Syekh Jumadil Qubro juga merupakan keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Syekh Jumadil Qubro memiliki dua putrak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. Syekh Maulana Jumadil Qubro wafat tahun 1376 M, 15 Muharram 797 H, yang kini makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.  BAB III KONDISI LAPANGAN Tradisi berziarah, merupakan wisata religi yang sering dilakukan oleh peziarah dari masyarakat lokal semarang. Berziarah kemakam merupakan sarana untuk memanjatkan do’a yang diyakini mustajabah. Tidak hanya untuk memanjatkan do’a untuk jenazah, tetapi juga sarana tempat untuk mengungkapkan berbagai masalah yang dialami oleh peziarah tersebutkemudian para peziarah meminta kepada Sang Pencipta agar semua problem hidup mereka teratasi. Adapun kebaikan atau keteladanan dari sosok orang suci yang berada di dalam makam itu menjadi suatu perantara (tawassul). Para orang suci yang diziarahi seakan hadir kembali dalam batin peziarah dalam bentuk optimisme (tafa’ul). Mereka menjadi semacam sugesti dalam berdoa kepada Sang Pencipta. Pada proses berziarah dilakukan berbagai bentuk doa yang dibacakan seperti tahlil yang populer di kalangan masyarakat, yang dimulai dari bacaan surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada ahli kubur, dilanjutkan bacaan ayat Al-Qur’an, dzikir dan doa-doa. Kadang juga diisi dengan dakwah atau ceramah yang mengajak untuk sering berziarah agar dosa dan masalah dalam kehidupan bisa teratasi dengan bantuan Allah SWT lewat tawassul. Dalam tradisi ziarah ini tidak terlepas dari air pemberi barokah yang disediakan di makam tersebut yang diyakini mengandung do’a-do’a yang akan menyembuhkan sakit atau menjadikan seorang anak pintar ataupun sukses akan hidupnya. Dengan meminumnya dan membawa pulang air tersebut untuk diberikan kepada anggota keluarga dirumah. Adapula seorang peziarah yang menyakini bahwa dengan mandi di makam yang disediakan kamar mandi juga akan membantu menyembuhkan segala sakit dan hilang segala sial dan lain sebagainya.   BAB IV ANALISA LAPANGAN Makam Syekh Maulana Jumadil Qubro terletak diJalan Yos Sudarso No. 1 Kelurahan Terboyo Kulon, Kecamatan Genuk Semarang. Menurut juru kunci Bapak Afwan dahulu sebelum ada bangunan dan jalan tol wilayah Terboyo Kulon merupakan tambak yang luas dan di tengahnya tepatnya disamping kiri jalan tol dari atah Pelabuhan terdapat gundukan tanah seperti makam dan satu nissan. Dan menurut juru kunci, dahulu ada tokoh ulama yang diberi syafaat melalui mimpi yang menerangkan bahwa tanah gundukan tersebut adalah kediaman Syekh Maulana Jumadil Qubro yang sekarang digunakan sebagai tempat ziarah. Didalam makam juga terdapat pohon randu yang tingginya mencapai lima meter menjulang keatas sampai menembus lantai dua. Dahulu pohon tersebut merupakan tempat berteduh para peziarah sebelum dibangun Masjid Jumadil Qubro. Kini pohon tersebut masih hidup dan diberi cagar pelindung yang terletak disamping makam Syekh Maulana Jumadil Qubro dan kondisi terawat dengan baik. Pohon tersebut juga merupakan daya tarik untuk peziarah yang datang di makam tersebut. Ribuan peziarah yang berasal dari dalam dan luar kota berdatangan ke makam wali Allah tersebut, dengan rombongannya masing-masing. Mereka datang menggunakan bus dan mobil mulai pagi telah memadati masjid Jumadil Qubro. Peziarah kebanyakan berasal dari Demak, Kudus, Pekalongan, Kendal, Ungaran, Semarang, Kalimantan, Salatiga, Magelang, Jepara dan bahkan sampai lingkup Jawa-Madura. Kegiatan ziarah ini merupakan langkah awal mengenalkan kepada anak-anak kepada wisata religius dari yang terdekat dulu di Semarang. Karena melihat dari perjuangan beliau yang tidak ada bandingannya berada di Kota Semarang untuk menyebarkan agama Islam. Dengan ini agar anak didik menjalankan apa yang dicontohkan oleh beliau. Apalagi menjelang awal Ramadhan, merupakan langkah awal untuk menata hati dan menambah spirit semangat kepada anak. Dan menyiapkan hati, dan fisik serta menjaga kesehatan yang setiap tahun rutin dilaksanakan. Selain itu, Makam Syekh Jumadil Qubro dikunjungi banyak peziarah juga selama masa liburan sekolah. Pihak Yayasan Syekh Jumadil Qubro juga sedang membangun masjid agar semakin dikenal orang. Pada umumnya jamaah melakukan doa, tahlil, yasinan, dan manaqib di makam tersebut. Adapun kegiatan rutin untuk umum Mujahadah setiap Senin malam, Manaqib dan Maulidurrasul Kamis Kliwon selapanan, Manaqib Alhikmah setiap Sabtu pahing dan Khaul Akhir Apit atau Dzulkaidah, pada hari Jumat setiap tahunnya. Saat melaksanakan kegiatan rutin tersebut biasanya di barengi dengan bancaan atau tasyakuran yang terdiri dari Ayam Ingkung dan gudangan yang disediakan pada saat manaqiban. Konon makanan tersebut erupakan makanan favorit Syekh Abdul Qadir Jailani tokoh yang terdapat dalam buku manaqib. Konon Syekh Abdul Qadir Jailani bisa menghidupkan ayam ingkung yang sudah mati, dengan keajaiban tersebut membuat daya tarik orang-orang sekitar dengan begitu banyak orang yang tertarik oleh dakwah Syekh Abdul Qadir Jailani. Kini tradisi manaqiban sering dilakukan sebagai nazar setelah tercapainya keinginan, sebagai penghilang mala petaka dan manaqib sering dilakukan pada malam 11 pada bulan jawa. Tanggal 11 bulan jawa merupakan hari dimana Syekh Abdul Qadir Jailani wafat dan malam tersebut sering diselenggarakannya manaqib.   BAB V KESIMPULAN Ziarah merupakan tradisi budaya Jawa yang melekat sebelum datangnya Islam di pulau Jawa. Pada proses berziarah dilakukan dengan berbagai bentuk doa yang dibacakan seperti tahlil yang populer di kalangan masyarakat, yang dimulai dari bacaan surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada ahli kubur, dilanjutkan bacaan ayat Al-Qur’an, dzikir dan doa-doa. Dengan berdo’a disana diyakini bahwa akan diijabahi lewat tawassul dan do’a akan dikabulkan Allah SWT. Bagi masyarakat Genuk Semarang Ziarah merupakan wisata religi yang nantinya akan menentramkan jiwa dan membantu permasalahan hidup dengan cara berdo’a tadi. Saat berziarah biasanya juga disediakan air yang diyakini memberikan barokah karena sudah mengandung do’a-do’a para peziarah. Konon air tersebut dapat meneymbuhkan sakit baik ruhaniah maupun jasmaniyah. Ziarah makam yang terdapat di terboyo kulon dahulunya ditemukan oleh seorang Tokoh agama lewat karomah mimpi dan kini dibangun menjadi Masjib Jumadil Qubro yang didalamnya terdapat pesarean Syekh Jumadil Qubro dan dijadikan tempat peziarah sebagai wisata religi masyarakat wilayah sekitar. Peziarah kebanyakan berasal dari Demak, Kudus, Pekalongan, Kendal, Ungaran, Semarang, Kalimantan, Salatiga, Magelang, Jepara dan bahkan sampai lingkup Jawa-Madura. Tujuan berziarah sendiri yaitu langkah awal mengenalkan kepada anak-anak kepada wisata religius dari yang terdekat dulu di Semarang. Karena melihat dari perjuangan beliau yang tidak ada bandingannya berada di Kota Semarang untuk menyebarkan agama Islam Kegiatan rutin di Masjid Jumadil Qubro sekaligus makam Syekh Maulana Jumadil Qubro diisi dengan doa, tahlil, yasinan, dan manaqib di makam tersebut. Adapun kegiatan rutin untuk umum Mujahadah setiap Senin malam, Manaqib dan Maulidurrasul Kamis Kliwon selapanan, Manaqib Alhikmah setiap Sabtu pahing dan Khaul Akhir Apit atau Dzulkaidah, pada hari Jumat setiap tahunnya   DAFTAR PUSTAKA Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013. Interview Wawancara dengan Bapak Afwan   BIODATA MAHASISWA Nama : Hidayatul Istifaiyah NIM : 133511025 Jurusan : Pendidikan Matematika Alamat : Jln. Gebangsari RT 03/IX Genuk Semarang No HP : 085741221501 Alamat E-mail : sayahidayatulistifaiyah@gmail.com Twitter : @istifaiyah Blog : jendela istifaiyah.blogspot Riwayat Pendidikan : MI Mirfaul’ulum Semarang SMP Negeri 20 Semarang MA Negeri 1 Semarang UIN Walisongo Semarang   LAMPIRAN-LAMPIRAN Narasumber : Bapak Afwan (Juru Kunci Masjid Jumadil Qubro) Tempat/ Waktu wanwancara : rumah Bapak Afwan (Terboyo Kulon) Hasil wawancara: 1. Bagaimana asal mula adanya makam Syekh Maulana Jumadil Qubro? Jawab: Dahulu ada tokoh ulama yang diberi syafaat melalui mimpi yang menerangkan bahwa tanah gundukan tersebut adalah kediaman Syekh Maulana Jumadil Qubro yang sekarang digunakan sebagai tempat ziarah. Dahulu Syekh Maulana Jumadil Qubro berdakwah melalui pendekatan-pendekatan khusus. 2. Kegiatan apa saja yang diselenggarakan Masjid Jumadil Qubro? Jawab: Kegiatan rutin untuk umum Mujahadah setiap Senin malam, Manaqib dan Maulidurrasul Kamis Kliwon selapanan, Manaqib Alhikmah setiap Sabtu pahing dan Khaul Akhir Apit atau Dzulkaidah, pada hari Jumat setiap tahunnya 3. Apa saja yang harus dipersiapkan saat diselenggarakannya kegiatan rutin tersebut? Jawab: biasanya ada orang yang mengadakan bancaan atau tasyakuran yang makanannya terdiri dari Ayam Ingkung dan gudangan yang disediakan pada saat manaqiban. Konon makanan tersebut erupakan makanan favorit Syekh Abdul Qadir Jailani tokoh yang terdapat dalam buku manaqib. 4. Makna apa saja yang terkandung dalam Ziarah makam khususnya makam atau sarean Syekh Maulana Jumadil Qubro Jawab: selain menambah wawasan religi, ziarah juga mengenalkan kepada anak-anak kepada wisata religius dari yang terdekat dulu di Semarang. Karena melihat dari perjuangan beliau yang tidak ada bandingannya berada di Kota Semarang untuk menyebarkan agama Islam. Selain itu juga menentramkan hati dan jiwa karena disana banyak memanjatkan do’a untuk kebaikan baik diri sendiri maupun keluarga.
MAKNA DARI SEBUAH SIMBOL ADAT PERNIKAHAN JAWA
(Studi Kasus di Kelurahan Gebangsari, Kecamatan Genuk Semarang)

Mini Riset
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Islam dan Kebudayaan Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si


Logo 3D UIN Walisongooo.png


Oleh :
Hidayatul Istifaiyah    (133511025)
Kelas PM-5A


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
          Pernikahan dalam Islam merupakan sebuah fitrah setiap manusia agar bisa memikul amanat dan tanggung jawab yang paling besar terhadap diri sendiri. Pernikahan memiliki manfaat yang paling besar terhadap kepentingan-kepentingan sosial yang lain. Kepentingan sosial tersebut diantaranya memelihara kelangsungan hidup manusia, memelihara keturunan, menjaga keslamatan masyarakat dari segala macam penyakit dan mampu menjaga ketentraman jiwa.
Dalam pernikahan Jawa ada beberapa budaya yang menjadi simbol tertentu dan memiliki arti sendiri bagi masyarakat Jawa. Sebagai masyarakat Jawa yang memiliki budaya yang kental harus mengetahui dan mewarisi budaya tersebut tanpa adanya kepercayaan yang lain seperti musrik. Disini penulis tertarik menulis akan makna dari sebuah simbol adat pernikahan Jawa khususnya daerah kelurahan Gebangsari Kecamatan Genuk Semarang.

B.  Rumusan Masalah
Apa makna dari sebuah simbol adat pernikahan Jawa khususnya daerah kelurahan Gebangsari Kecamatan Genuk Semarang?
C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yaitu:
Tujuan         : Mengetahui makna dari sebuah simbol adat pernikahan Jawa khususnya     daerah kelurahan Gebangsari Kecamatan Genuk Semarang
Manfaat       : Dapat memahami dan melestarikan budaya setempat seperti adat pernikahan Jawa


BAB II
LANDASAN TEORI

            Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia agar bisa memikul amanat dan tanggung jawab yang paling besar terhadap diri sendiri. Pernikahan memiliki manfaat yang paling besar terhadap kepentingan-kepentingan sosial yang lain. Kepentingan sosial tersebut diantaranya memelihara kelangsungan hidup manusia, memelihara keturunan, menjaga keslamatan masyarakat dari segala macam penyakit dan mampu menjaga ketentraman jiwa.
            Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(QS. Ar-Rum :30)
            Dalam pernikahan memiliki rukun sah, apabila salah satu rukun tersebut tidak dilakukan maka pernikahan tersebut tidak sah, diantaranya rukun-rukun tersebut yaitu: akad nikah, akad (sighat), wali dari calon istri, dan dua orang saksi[1]
            Dalam adat budaya Jawa pernikahan memiliki simbol-simbol yang memiliki arti tersendiri. Adat pernikahan Jawa diantaranya: Ijab Qobul, temu Manten, ritual Menginjak Telur, menyuci kaki pengantin Pria,  Sindur Binayang,  Kacar-Kucur / Tampa Kaya, Menjemput Besan, Sungkeman Rama Ibu.


BAB III
KONDISI LAPANGAN

            Budaya jawa merupakan budaya yang kental akan animisme dan dinamisme, salah satu budaya Jawa yang saat ini masih digunakan oleh masyarakat kelurahan Gebangsari kecamatan Genuk Semarang adalah melaksanakan adar pernikahan sesuai adat Jawa. Dalam masing-masing adat memiliki makna tersendiri.
            Pada tanggal 19 Desember tahun 2015 salah satu warga gebangsari melaksanakan pernikahan menggunakan adat Jawa. Dengan berbagai persiapan untuk melaksanakan adat tersebut dilakukan baik tujuh hari sebelum  dan sesudah pernikahan. Dengan pengantin pria yang berasal dari morosari demak juga mempersiapkan seserahan berupa mahar atau yang sering disebut dengan maskawin. Maskawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada mempelai wanita saat pernikahan.
            Mahar berisi seperangkat alat Sholat, seperangkap make up, seperangkat peralatan mandi, dan ayam jago dua. Jajanan-jananan (gemblong, wajik, tape, jenang dan lain-lain) peralatan dapur, dan pakaian untuk pengantin wanita. mahar diserahkan pada saat proses pernikahan dan diserahkan secara simbolik oleh keluarga pengantin wanita.



BAB IV
ANALISA LAPANGAN
           
Adat pernikahan Jawa memiliki makna pada setiap simbol-simbol yang di laksanakan, seperti yang terjadi dikelurahan Gebangsari kecamatan genuk Semarang memiliki tata cara dalam pernikahannya diantaranya persiapan pernikahan Pasang ulem-ulem yang merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memberi tanda bahwa keluarga akan melaksanakan hajatan pernikahan. Disamping itu, ulem-ulem memiliki tujuan untuk permohonan keselamatan kepada unsur magis agar pelaksanaan hajatan yang akan dilaksanakan terhindar dari gangguan akibat tidak berkenannya unsur.
Seminggu sebelum pernikahan dilakukan tirakatan dengan berpuasa selama tujuh hari sebelum pernikahan yang memiliki makna yang sama  yaitu terhindar dari marabahaya, dan suci dari hal-hal maksiat. Kemudian merias bagi penganten putri untuk mempersiapkan kegiatan yang berarti Ratu sehari selama proses pernikahan tersebut. kegiatan inti adalah Ijab Qobul sebagai kegiatan yang menunjukkan bahwa penganten telah benar-benar resmi menjadi suami istri yang sah dihadapan masyarakat, agama, dan pemerintah.
Kegiatan inti yang lain yaitu temu manten temu manten dan ritual-ritual tambahan lainnya guna kesempurnaan acara inti. Ritual-ritual tambahan tersebut diantaranya adalah menginjak telor,. salah satu ritual yang cukup penting dalam acara inti ini adalah tukar cincin oleh temanten, ada juga proses tukar cincin dilakukan sebelum pernikahan.
 Ritual pelengkap lainnya adalah ritual Sindur Binayang melambangkan ayah pengantin putri menunjukkan jalan kebahagiaan dan ibu memberikan dukungan, dan selanjutnya Kacar-Kucur / Tampa Kaya mempunyai makna semua hasil jerih payah suami diserahkan seluruhnya pada sang istri untuk disimpan dan dimanfaatkan bagi keluarganya, menjemput  besan melambangkan sebuah penghormaan pada keluarga mempelai laki-laki sekaligus sebagai tanda diterimanya sebagai sebuah anggota keluarga baru.
Setelah selesainya acara inti, dilakukan kegiatan penutup yaitu dengan Sungkeman Rama Ibu. Pelaksanaan sungkeman ini, disamping bertujuan untuk memohon do’a restu secara simbolis, juga dilakukan sebagai tanda bahwa dengan berakhirnya kegiatan upacara pengantin yang menandakan bahwa sepasang temanten telah resmi untuk membina keluarga mandiri, maka buka berarti temanten lepas total dari orang tua, akan tetapi temanten tetap melakukan bakti kepada orang tua baik orang tua sendiri maupun mertua. 
Setelah proses pernikahan selesai ada satu syarat lagi yang harus dilakukan yaitu sepasaran dimana seperti bancaan yang dibagikan kepada tetangga sebagai ungkapan rasa syukur dan tolak balak terhadap malapetama dalam kehidupan kedepannya. Sepasaran biasanya berisi gudangan (sayur-sayuran), jajanan pasar (getuk, buah dodong, salak, resoles, krupuk dan lain-lain), telor dan ayam. Biasanya sepasaran dilakukan setelah tujuh hari setelah pernikahan.
Banyak tradisi Jawa yang , mengandung arti-arti mendalam. Kita sebagai generasi penerus diharapkan mewarisi budaya-budaya tersebut tanpa mencampurinya dengan bid ah dan syirik atau lain sebagainya.



BAB V
KESIMPULAN

Pernikahan merupakan fitrah setiap manusia agar bisa memikul amanat dan tanggung jawab yang paling besar terhadap diri sendiri. Pernikahan memiliki manfaat yang paling besar terhadap kepentingan-kepentingan sosial yang lain. Kepentingan sosial tersebut diantaranya memelihara kelangsungan hidup manusia, memelihara keturunan, menjaga keslamatan masyarakat dari segala macam penyakit dan mampu menjaga ketentraman jiwa.
Ada beberapa tata cara yang dilakukan baik sebelum pernikahan, proses pernikahan dan sesudah pernikahan. Adapun tata cara sebelum pernikahan yaitu: ulem-ulem tirakatan dengan berpuasa merias bagi penganten putri. Dan tata cara saat proses pernikahan yaitu: temu manten, menginjak telor, tukar cincin, sindur binayang, kacar-kucur / tampa kaya, Sungkeman Rama Ibu. Dan tata cara setelah perniakahan yaitu sepasaran dengan memberikan bancaan kepada tetangga disekitar
Adat pernikahan dalam budaya Jawa, mengandung arti-arti yang mendalam. Kita sebagai generasi penerus diharapkan mewarisi budaya-budaya tersebut tanpa mencampurinya dengan bid ah dan syirik atau lain sebagainya.





DAFTAR PUSTAKA

Hamid, Atiqah, Fiqh Wanita, Jogjakarta: DIVA Press, 2012
Interview
Wawancara dengan Bapak Hasyim


BIODATA MAHASISWA

Nama                        :  Hidayatul Istifaiyah
NIM                         :  133511025
Jurusan                     :  Pendidikan Matematika
Alamat                     :  Jln. Gebangsari RT 03/IX Genuk Semarang
No HP                      :  085741221501
Alamat E-mail          :  sayahidayatulistifaiyah@gmail.com
Twitter                     : @istifaiyah
Blog                         : jendela istifaiyah.blogspot
Riwayat Pendidikan :  MI Mirfaul’ulum Semarang
                                    SMP Negeri 20 Semarang
                                    MA Negeri 1 Semarang
UIN Walisongo Semarang


LAMPIRAN-LAMPIRAN

Narasumber                             : Bapak Afwan (Juru Kunci Masjid Jumadil Qubro)
Tempat/ Waktu wanwancara  : rumah Bapak Afwan (Terboyo Kulon)
Hasil wawancara:
1.        Bagaimana pendapat anda mengenai adat pernikahan Jawa?
Jawab: Adat pernikahan Jawa penuh dengan ritual-ritual yang mengandung arti do’a. Setiap  
2.        Apa saja adat atau tata cara pernikahan yang dilakukan sebelum pernikahan?
Jawab: sebelum pernikahan ya biasanya ulem-ulem dulu dengan bancaan yang dibagikan ketetangga, tahlilan saat malam sebelum pernikahan untuk memanjatkan do’a kepada Allah SWT,  tirakatan biasanya puasa selama 7 hari dan paginya merias bagi penganten putri.

3.         Apa saja adat atau tata cara pernikahan yang dilakukan saat proses pernikahan?
Jawab: saat prosesnya itu ada temu manten yaitu dengan mempertemukan , menginjak telor, tukar cincin oleh temanten, ada juga proses tukar cincin dilakukan sebelum pernikahan, ritual Sindur Binayang melambangkan ayah pengantin putri menunjukkan jalan kebahagiaan dan ibu memberikan dukungan, dan selanjutnya Kacar-Kucur / Tampa Kaya mempunyai makna semua hasil jerih payah suami diserahkan seluruhnya pada sang istri untuk disimpan dan dimanfaatkan bagi keluarganya, menjemput  besan melambangkan sebuah penghormaan pada keluarga mempelai laki-laki sekaligus sebagai tanda diterimanya sebagai sebuah anggota keluarga baru. Setelah itu Sungkeman Rama Ibu. Pelaksanaan sungkeman ini, disamping bertujuan untuk memohon do’a restu secara simbolis, juga dilakukan sebagai tanda bahwa dengan berakhirnya kegiatan upacara pengantin yang menandakan bahwa sepasang temanten telah resmi untuk membina keluarga mandiri, maka buka berarti temanten lepas total dari orang tua, akan tetapi temanten tetap melakukan bakti kepada orang tua baik orang tua sendiri maupun mertua. 

4.        Apa saja adat atau tata cara pernikahan yang dilakukan setelah pernikahan?
Jawab: sepasaran dengan memberikan bancaan kepada tetangga disekitar

LAMPIRAN-LAMPIRAN FOTO

Gambar1: ijab qobul














Keteragan:
Gambar 1: Ijab qobul
Gambar 2 Mahar
Gambar 3 Temu manten
Gambar 4 sungkeman



[1] Atiqah Hamid, Fiqh Wanita, (Jogjakarta: DIVA Press, 2012). hlm.81